​VERSANG OBSER: ANAK dan BATU

Versang Obser namanya. Di lain waktu nanti akan ia ceritakan kisah orangtuanya memberinya nama seperti itu. Namun perhatiannya lebih terfokus pada seorang anak sedang asyik di pantai. Dia memungut sebuah batu, mengamatinya, tersenyum sendiri, kemudian menyimpan batu tsb di kantungnya. Di lain waktu, setelah mengamati batu, ia kemudian membuang batu tsb jauh-jauh. Terkadang ia membutuhkan waktu menimbang-nimbang, memutar-mutar batu dan melihatnya  dalam jarak dekat. Kadang setelah itu batu masuk ke kantong. Namun tidak jarang yg dibuangnya juga. Ia tampak menikmati proses tsb: Mengambil batu, melihat dengan seksama, dan memutuskan apakah batu dibuang atau disimpan dalam kantong. 
Versang Obser tersenyum melihat perilaku anak tsb. Mungkin nanti si anak akan menerima amarah dari orangtuanya karena pulang dengan sekantong batu. Namun Versang Obser terkesan dengan ekspresi bahagia si anak tsb ketika menemukan batu yg disukainya. Ketika si anak mengantongi batu, dan menepuk-nepuk sakunya untuk memastikan batu tsb masih di saku. Pikiran Versang Obser melayang-layang mengimajinasikan sesuatu. Ia mulai berpikir, bagaimana bila dinamika tsb merupakan simbol dinamika manusia dan pikiran/perasaannya. Si anak tentunya representasi manusia, sementara batu merepresentasikan pikiran dan/atau perasaan manusia: Tidakkah lebih mudah dan praktis bagi manusia apabila langsung membuang pikiran/perasaan negatif, bila ia menemukannya? Bukankah akan lebih menyenangkan bagi manusia apabila ia hanya menyimpan pikiran/perasaan positif dalam dirinya? Versang Obser jadi lebih bergairah memperhatikan si anak. Ekspresi gembira si anak ketika menemukan batu yg disukainya, coba disinkronkan oleh Versang Obser ke dalam dirinya. Ia memejamkan mata, berusaha memikirkan pikiran dan perasaan positif meresap dalam dirinya. Versang Obser membuka mata, dan melihat si anak sedang berusaha membuang satu batu jauh-jauh. Versang Obser pun berupaya mensinkronkan gerakan membuang batu si anak dengan dinamika dalam dirinya, ketika ia menghimpun segenap pikiran dan perasaan negatif, dan kemudian terlempar seiring dengan gerakan anak melempar batu. Terasa ada kelegaan dalam hatinya. Ia semakin tertarik untuk terus mengikuti arah anak berjalan menyusuri pantai. 

Setiap batu yg disimpan. Setiap batu yg dilempar. 

Dan senja menjelang.

Iklan

LENGAH

Saat itu sudah injury time. Chelsea sudah menarik pemain-pemain  andalannya. Eden Hazard dan Moratta yang banyak mengobrak-abrik pertahanan tuan rumah Atletico Madrid, sudah diistirahatkan oleh Pelatih Chelsea Antonio Conte. Gelagatnya memang menunjukkan bahwa Chelsea sudah puas dengan hasil seri. Namun kemudian ada kesempatan tendangan bebas beberapa meter di depan kotak penalti Atletico Madrid. Pemain-pemain Atletico juga tak tampak ngotot, walau mereka jelas tidak puas dengan hasil seri karena bermain di kandang sendiri. 

Chelsea pun mengambil tendangan bebas tanpa terlihat terburu-buru. biasanya dalam masa injury time, tendangan akan dilakukan langsung ke mulut gawang. Namun oleh pemain Chelsea hanya digulirkan saja ke rekan terdekat. Namun kemudian tiba-tiba mereka bergerak dengan cepat. Kante mengirim umpan terobosan menusuk ke dalam kotak penalti, yang dengan cerdik dibelokkan oleh Bakayoko ke sayap. Alonso berlari dan dengan satu sentuhan pengirim umpan kencang mendatar ke muka gawang. Pemain-pemain atletico kehilangan konsentrasi dan lengah membiarkan Batshuayi tanpa terkawal. Begitu  derasnya umpan dan demikian dekatnya gawang, membuat Batshuayi cukup memantulkan bola tsb. Gollll!!! Dan pemain Atletico pun pada tertunduk lemas. 

Inilah contoh paling terkini seputar kelengahan. Sesal kemudian tidak berguna. Gol tersbut sangat krusial, karena Atletico yang tadinya mengincar 3 poin, kemudian merasa cukup puas dengan satu poin hasil seri, akhirnya justru tidak mendapatkan poin sama sekali. Lebih menarik lagi karena Atletico Madrid merupakan tim militan dengan organisasi pertahanan yang terkenal solid.

Indahnya lagi dari gol ke-2 Chelsea itu adalah, dari Kante sampai dengan Batshuayi, semunya hanya melakukan satu sentuhan saja.

SERI NAPAK TILAS: Karir, Kesempatan, dan Aktualisasi Diri

PROLOG:
Karena mata tak kunjung sepet, padahal jam sudah menjauh dari tengah malam, maka mulailah pikiran yang kesana-kemari tanpa bisa dicegah. Salah satunya adalah perjalanan karir saya yang ternyata meriah dan cukup berwarna juga, hihihi….

Hidup memang pilihan. Saya bukannya ingin menyampaikan untuk memilih apakah ingin hidup atau tidak:-D, melainkan bahwa dalam hidup, kita selalu dihadapkan akan pilihan-pilihan. Sebelum kuliah, sebenarnya saya ingin instirahat dulu sekaligus memantapkan pilihan-pilihan saya. Namun pertimbangan dari orangtua akhirnya membuat saya mengambil pilihan kuliah. Selepas kuliah sebenarnya tak kalah serunya, karena hidup saya menjadi begitu”berwarna”. Itung-itung, sudah delapan pekerjaan yang pernah saya jalani selama kurun waktu delapan belas tahun. Kurang banyak? Terlalu banyak? Ah, silakan saja diperdebatkan. Saya cukup merekamnya dalam diri saya, dan memahatnya menjadi prasasti kehidupan saya.

Setelah harus melepaskan masa nyaman kuliah (beneran atau ngeles ya? Soalnya masa studinya panjang banget:-D), tentunya tahapan selanjutnya adalah mencari kerja. Yap, saya termasuk generasi old school, yang nyiapin lamaran plus CV dalam amplop coklat besar. Seingat saya, cetakan pertama langsung saya buat 20 copy, yang pastinya akan menyusul cetakan-cetakan selanjutnya, tergantung hoki diterima tidaknya oleh perusahaan, hehehe.

Kalo diingat-ingat, sebenarnya dulu saya tidak terlalu sulit mencari kerja, karena tawaran justru datang dari kampus tempat saya kuliah. Yang jelas, kampus saya berkontribusi besar, tidak saja untuk menyiapkan saya, namun juga memberi saya kesempatan untuk mengkontribusikan profesionalitas saya. Saya pernah menjadi Staf Perencanaan dalam program pendampingan komunitas oleh Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) dengan lembaga bentukannya bernama Pusat Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan (PUSDAKOTA). Di kesempatan lain, saya juga pernah dipekerjakan untuk mengelola materi publikasi dan dokumentasi untuk LPPM-UBAYA. Setelah itu, saya masih diberi kesempatan untuk menjadi tenaga psikolog dan assesor di Pusat Konsultasi dan Layanan Psikologi (PKLP). Di sela-sela itu saya juga dilibatkan untuk mengajar di jenjang S1 maupun di jenjang S2. Tantangannya menjadi lebih menarik ketika salah satu klien PKLP yaitu perusahaan pelayaran bernama PT Pelayaran Meratus mengajak saya untuk mengembangkan rekrutmen di sana. Wow, rasa penasaran sekaligus kegamangan pasti selalu memenuhi diri saya setiap bergabung dengan tempat yang baru.

Dari PT Pelayaran Meratus saya sempat vakum dari perusahaan dan lebih banyak terlibat sebagai tenaga assesor lepas (freelance). PT Tirta Bahagia yang mengurusi produksi dan distribusi air minum kemasan merek CLUB kemudian memberi saya kesempatan selanjutnya. Ah, hanya tiga bulan saya di sana, sebelum kemudian menjalani masa vakum lagi. Jobless ceritanya:-D. saya kejar tawaran-tawaran pekerjaan yang ada, termasuk yang ke daerah-daerah terpencil. Namun kemudian karena merasa skill saya sudah terbentuk di bidang asesmen-rekrutmen, maka saya memutuskan untuk lebih memfokuskan diri mencari peluang di bidang ini.

Jakarta kemudian sempat menjadi pilihan. Pertimbangannya, di sana banyak perusahaan-perusahaan yang sudah concern dengan pengembangan konsep rekrutmen dibanding di Jawa Timur yang menurut saya lebih banyak menuntut keterampilan hubungan industrial. Ternyata walau di Jakarta banyak peluang tersebut, peminatnya pun banyak. Saya kemudian justru mendapatkan peluang di perusahaan Surabaya, di perusahaan kertas bernama PT Suparma, Tbk. Mungkin bukan jodohnya, karena setelah tiga bulan, saya merasa tidak cocok. Saya kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan pembiayaan bernama PT Sasana Artha Finance, yang kemudian dalam perjalanannya melakukan merger dan berganti nama menjadi PT MPM Finance. Setelah menjalani masa kerja hampir 4 tahun, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Kali ini yang ingin saya coba adalah wirausaha. Bidangnya? Masih dalam perumusan, hehehe.

Apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini? Ah, jangan terlalu serius dong. Anggap saja berbagi pengalaman dan kisah hidup. Nanti kapan-kapan akan saya tulis lebih detail kisah di masing-masing perusahaan (ehm, kapan ya?)

Eh, tapi supaya lebih berbobot, coba saya cari poin-poinnya deh, siapa tahu bisa menjadi insight dan syukur-syukur menginspirasi. Here we go.
Poin pertama, sikap positif. Ini penting untuk menghadapi tantangan maupun situasi yang berbeda atau baru. Saya bukan sok positif, karena juga dulunya pasti ada rasa deg-degan, ketidaktahuan, merasa tidak mampu, ragu, pesimis, dan lain sebagainya. Namun saya juga menganggap bahwa hal tersebut menjadi dinamika kehidupan yang perlu dijalani dan dihadapi.
Poin kedua, keterbukaan terhadap hal-hal baru. Waktu saya bekerja sebagai assesor, betapa kagetnya saya melihat format laporan pemeriksaan psikologi yang praktis, beda dengan yang diajarkan di kuliah yang ribet, panjang, dan kaku (salah satunya adalah keharusan melakukan transkrip wawancara verbatim). Ternyata dalam psikologi industri memang berbeda proses pembuatan laporannya dengan bidang klinis, sementara saya sebelumnya banyak dicekoki dengan gaya dan format psikologi klinis.
Poin ketiga, manfaat networking. Banyak pekerjaan saya didapatkan karena hubungan pertemanan (paling tidak karena dikenal) dengan pihak lain, walau tentunya mekanisme seleksi juga tetap berlaku.
Poin keempat, belajar mandiri (self-learning). Memang ada beberapa perusahaan yang sudah mengembangkan paket induksi yang memberi kesempatan bagi karyawan barunya untuk mempalajari pengetahuan-pengetahuan dasar seputar pekerjaan maupun perusahaan. Namun masih banyak juga yang menuntut kontribusi kita secara langsung, apalagi bila kita memang mencantumkan pengalaman kerja kita sebagai kompetensi yang “menjual”
Poin Kelima? Keenam? Nanti aja ah. To be continued. Matahari sudah lama ngintip, padahal ini mata belon istirahat dari semalam.

Totti Dua Kali Hampir Seklub Dengan David Becham

Sang pangeran Roma, Francesco Totti, baru saja menuntaskan dharma baktinya di klubnya, AS Roma. Ribuan fans di Stadio Olimpico, termasuk pemain- pemain AS Roma yang masih aktif, menangisi kepergiannya. Totti adalah simbol loyalitas dan kecintaan kepada klub. Namun tahukah anda, bahwa Totti pernah hampir tergabung dalam satu klub dengan David Beckham?
Kesempatan pertama datang tahun 2003, ketika Totti ditawari untuk bergabung ke Real Madrid untuk bergabung bersama mega bintang mereka seperti Zinedine Zidane, Raúl, Luís Figo, Ronaldo, Roberto Carlos. Di tahun itu, Real Madrid juga baru saja mentransfer David Beckham dari Manchester United sebesar €35,000,000. Totti menceritakan hal tersebut kepada Sky Sport saat merayakan ulang tahun ke-40. Fabio Capello yang pada 2003 melatih AS Roma juga sempat menceritakan hal itu. “Saya tidak bilang dari siapa, namun kami menerima penawawaran yang sangat besar untuk Totti,” Ceritanya. Memang saat itu sangat santer kabar yang mengait-ngaitkan Real Madrid dengan sang superstar Roma tersebut. Seperti kita ketahui, bahwa transfer tersebut tidak terealisasi. “Hati saya, teman-teman, dan keluarga saya membantu saya memikirkan lebih mendalam, dan syukurlah saya masih berada di sini (Roma) untuk menceritakan hal ini,” pungkas Totti.
Kesempatan kedua muncul seperti yang diceritakan oleh David Beckham sendiri. Beckham mengakui bahwa saat ia bergabung dengan LA Galaxy (2007-2012), ia sempat mempertimbangkan untuk bergabung dengan AS Roma. “Ada kesempatan bagi saya untuk bergabung dengan Roma ketika saya di AS, dan hal utama yang sangat menggoda saya adalah Fancesco (Totti),” Begitu cerita Beckham kepada situs AS Roma. “bermain dalam satu tim dengannya akan menjadi sangat spesial. Sebelumnya, selalu menjadi hal yang spesial ketika benar-benar berada di lapangan untuk melawannya.”
Seperti kita ketahui selanjutnya, David Beckham kemudian sempat bermain di AC Milan (2009-2010) dengan status sebagai pemain pinjaman.
Keputusan Totti di tahun 2003 itu memang sangat disayangkan, terutama bagi pendukung Real Madrid. Pada laga penyisihan Liga Champion 2016 ketika AS Roma bertandang ke Santiago Bernabeu, Totti mendapatkan sambutan hangat dari ribuan pendukung Real Madrid. “Santiago Bernabeu adalah stadion yang luar biasa. Real Madrid adalah satu-satunya penyesalan saya.”

Bek Real Madrid, Sergio Ramos, tidak ketinggalan memanfaatkan kesempatan untuk bertukar kostum dengan sang legenda Roma tersebut. ‘A proud moment and an honour to have your shirt. #leggenda‘, begitu tulis Ramos dalam twitter-nya.

SUMBER:
http://www.espnfc.com
http://www.goal.com
http://www.skysports.com
http://www.dailymail.co.uk

Portugal vs Perancis: Belajar Dari Tahun 2004

Portugal v PerancisPiala Eropa 2016 akan mencapai klimaksnya ketika 2 kontestan menembus final. Ya, si terseok-seok Portugal akan dijamu oleh tuan rumah Perancis.
Portugal mengalami ketergantungan tunggal pada sosok Ronaldo – mungkin bisa terbantu oleh sisa-sisa skill angin-anginannya Nani atau Richardo Quaresma. Sementara di sisi lapangan lain, menghadapi tim bertabur bintang Perancis. Lini depan s/d kiper dipenuhi dengan pemain kualitas kelas satu. Ada Giroud, Griezmann, Pogba, Koscielny, Evra, Sagna, sampai si kiper yang juga kapten, Hugo Lloris. sedemikian dahsyatnya starting line up Perancis, sampai-sampai pemain sekelas Anthony Martial, Morgan Schneiderlin, N’Golo Kante rela diparkir dulu. Pengamat bahkan sudah menyatakan bahwa Perancis sudah memenangi piala Eropa ini ketika menaklukkan Jerman – yang juga bertabur bintang – di semifinal.

Sebenarnya, hal ini merupakan situasi yang terbalik ketika Portugal mencapai final Piala Eropa 2004. Portugal yang ketika itu menjadi tuan rumah merupakan tim bertabur bintang. Selain Ronaldo, masih ada Luis Figo, Rui Costa, Deco, Maniche, Nuno Valente. Bahkan pelatihnya saat itu pun merupakan sosok ambisius Luiz Felipe Scolari, yang baru saja mengantar Brasil menjuarai Piala Dunia 2002. Kurang apa lagi? Mereka cukup menaklukkan Yunani, negeri yang lebih terkenal dengan awal perkembangan ilmu dan budaya ketimbang sepakbolanya. Namun kemudian sundulan dari Angelos Charisteas membuyarkan mimpi dan ambisi Portugal. Lihatlah statistik pertandingan tsb: Portugal memberondong gawang Yunani dengan 16 tembakan, yang 5 di antaranya tepat mengarah ke gawang. sementara Yunani tertatih-tatih membalas dengan 5 tembakan, dengan hanya 1 di antaranya yang tepat mengarah ke gawang.
Yap, betul. Hanya 1 peluang namun berbuah gol, yaitu sundulan Charisteas. Cukup untuk memenangkan Piala Eropa 2004.
Katakanlah peluang memenangkan Piala Eropa ini adalah 30% Portugal dan 70% Perancis. Selain jajaran pemain yang lebih solid, Perancis bermain di depan publik sendiri. Belum cukup? Mereka juga didampingi pelatih ambisius yang juga bertabur gelar, Didier Deschamps. Beliau adalah bagian dari kesuksesan Juventus tahun 90-an, dengan merengkuh juara Liga Italia sampai dengan Liga Champions. Di karir timnas, dia menjadi bagian dari kesuksesan Perancis meraih Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Lihat pula sepak terjang Perancis sepanjang Piala Eropa 2016 ini. Hanya sekali Perancis “turun mesin”, yakni ketika ditahan imbang tanpa gol oleh Swiss di penyisihan grup. Selain itu, semua diraih dengan kemenangan meyakinkan. Bahkan Jerman pun – yang datang ke semifinal dengan reputasi meyakinkan – mampu dihajar Perancis. Bandingkan dengan langkah Portugal yang terseok-seok. Mereka bahkan nyaris terganjal di fase grup karena hanya mencapai peringkat tiga, dan beruntung masih bisa lolos karena selisih gol. Bayangkan, hal itu mereka lakukan dengan tanpa menang sekalipun dan hanya berbekal tiga kali seri!
Nah, berbekal kenangan pahit 2004 inilah Portugal akan memasuki arena final tanggal 11 Juli 2016 nanti. Saya yang sejak awal menjagokan Perancis tentunya akan terpuaskan dengan kemenangan Perancis. Namun tentunya “bola itu bundar”. Legiun Portugal pun memanggul beban berat, bahkan lebih berat daripada yg dipanggul Yunani tahun 2004. Hal ini dikarenakan Yunani saat itu sama sekali tidak diunggulkan, sehingga mereka justru bisa bermain lepas. Sementara Portugal memasuki Piala Eropa 2016 ini dengan status unggulan. Bahkan berdasarkan peringkat FIFA per Juni 2016, Timnas Portugas merupakan peringkat 8, sementara Perancis di peringkat 17. Pemain-pemain mereka juga sebenarnya tergolong potensial, walau memang banyak yang kurang dikenal karena tidak bermain di Liga Inggris, Italia, atau Spanyol. Selain Cristiano Ronaldo sebagai kapten tim, ada Nani, mantan pemain Manchester United yang kini hijrah ke Fenerbahce.Di tengah ada Danilo Pereira yang bermain di Porto, William Carvalho yang merumput di Sporting CP Lisbon, Andre Gomes gelandang serang di Valencia serta Renato Sanches gelandang muda potensial Bayern Muenchen. Di belakang ada Pepe bek andal dan tukang jagal Real Madrid, ada Vieirinha yang bermain di Wolfsburg serta Ricardo Carvalho pemain gaek tapi potensial yang memperkuat Monaco. Sedangkan yang berada di bawah mistar gawang yakni Rui Patrício kiper andalan di klub Sporting CP Lisbon.

Nah, kalau sudah begini, taruhannya kemana?  😀

Indahnya Dunia

I see trees of green, red roses too

I see them bloom for me and you

And I think to myself what a wonderful world

 Ah, betapa sederhana liriknya. Musiknya pun mendayu dalam tempo yang lambat. Di lengkapi dengan suara parau penyanyi berkulit hitam  Louis Armstrong. Lirik, musik, dan vokal tsb berpadu menjadi harmoni yang meneduhkan hati bagi siapapun yang mendengar lagu What A Wonderful World ini.

Namun, tahukah anda, bahwa lagu ini sebenarnya merupakan ekspresi penolakan atas diskriminasi rasial yang ada di Amerika Serikat? Mungkin anda tidak pernah menduganya. Lagu tsb dirilis tahun 1967, di mana pada saat tsb terjadi pergolakan rasial di AS. Sebagai informasi, tahun 1955-1968 merupakan periode Gerakan Hak-Hak Sipil Afrika-Amerika  yang menentang diskriminasi rasial terhadap orang Afrika-Amerika dan memulihkan hak-hak suara (politik) mereka. Kerusuhan rasial pada periode itu memuncak dengan terbunuhnya pimpinan kulit hitam, Martin Luther King, Jr pada tahun 1968.

Louis Armstrong bukan pilihan pertama untuk menyanyikan lagu ini. Tony Bennet – yang berkulit putih – yang awalnya ditawari, namun menolak. Si penulis lagu, George David Weiss (menuliskannya bersama dengan Bob Thiele) membuat pengakuan yang dituliskan Graham Nash dalam buku Off the Record: Songwriters on Songwriting, bahwa Weiss membuat lagu tsb khusus untuk Louis Armstrong karena kekagumannya terhadap kemampuan Louis Armstrong yang bisa menyatukan berbagai ras.

Lagu What A Wonderful World ini awalnya tidak serta-merta menjadi hits di AS, bahkan hanya terjual di bawah 1.000 copy karena produser rekamannya, Larry Newton, tidak mempromosikan lagu tsb. Salah satu pertimbangan Larry Newton dan Tony Bennet mungkin adalah kekhawatiran situasi sosial di masa-masa itu. What A Wonderful World justru berjaya di Inggris dan berhasil memuncaki UK Singles Chart tahun 1968 dan mencapai penjualan terbanyak. Di AS sendiri, lagu tsb hanya mencapai  peringkat 116 Billboard Chart. Menurut BBC, lagu ini menjadi “lebih terdengar” di AS setelah menjadi soundtrack di film Good Morning Vietnam tahun 1987, dan ketika ditampilkan sebagai lagu penghormatan atas tragedi Badai Katrina yang melanda New Orleans pada Agustus 2005 yang memakan ribuan korban. New Orleans sendiri adalah kampung halaman Louis Armstrong.

Profesor Peter Ling dari Universitas Nottingham, Inggris menyatakan bahwa Louis Armstrong tidak seperti artis kulit hitam lain, daya tariknya melampaui batasan ras dan mengharapkan pesan kebajikannya tersampaikan – bahwa dunia itu indah, dan demikian pula dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Memang tidak semua percaya. Armstrong sebenarnya juga dituduh hanya menjadi penghibur bagi ras kulit putih Amerika. Jelas saja Armstrong menolak. Ia menceritakan bahwa beberapa pemuda pernah menyatakan kepadanya, “Pak, apa maksudmu dengan betapa indahnya dunia? Bagaimana dengan perang di berbagai tempat. Apakah itu yang disebut indah? Jawab Louis Armstrong, “Bukan dunianya yang buruk, namun apa yang kita lakukan terhadap dunia. Lihatlah dunia dengan indah, bila saja kita mau melakukannya. Love, baby – love. That’s the secret”

Tampaknya masa-masa di mana prasangka, kebencian, tragedi, kesedihan, menjadi hal-hal yang hendak dinetralisir oleh lagu ini. Simaklah lirik lagunya. nikmati buaian musik dan vokalnya.Bayangkan hijaunya daun dan merekahnya merah mawar. Bayangkanlah biru langit yang cerah dan awan seputih kapas. Bayangkanlah indahnya warna-warni pelangi. bayangkanlah dua orang teman berjabat tangan dan saling menanyakan kabar. Bayangkanlah bayi yang sedang bertumbuh. Bayangkanlah.

Dan mendesahlah…………….. What A Wonderful World.

**********

Louis Armstrong – What A Wonderful World Lyrics

I see trees of green, red roses too

I see them bloom for me and you

And I think to myself what a wonderful world.

 

I see skies of blue and clouds of white

The bright blessed day, the dark sacred night

And I think to myself what a wonderful world.

 

The colors of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands saying how do you do

But they’re really saying I love you.

 

I hear baby’s cry, and I watched them grow

They’ll learn much more than I’ll ever know

And I think to myself what a wonderful world.

Yes, I think to myself what a wonderful world

 

PENJAJA, PENJAGA DAGANGAN, dan PEDAGANG

 

BaksoSaya pernah menyetop tukang bakso keliling. Suaranya cukup nyaring menyuarakan “Bakso, Bakso……”. Aha, tukang bakso lewat (ya jelaslah. Kalo teriak Bakso padahal Siomay, itu baru luarbiasa:-P). Jelas yang namanya bakso pasti menarik bagi sayaJ. Sambil memilih-milih, saya tanya, ini yang isinya telur ya? Si tukang bakso menjawab tidak tahu. Lho, kok bisa tidak tahu?  Akhirnya saya tetap memilih dengan mereka-reka saja. Dengan polosnya dia menyatakan bahwa dagangannya terkenal enak. Saya tanya, apakah Bapak sudah mencicipinya? Eh, lagi-lagi dengan polosnya dia bilang, belum. Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang mirip ya.

Saya juga pernah mengalami kejadian kecil yang menarik. Saya membeli air minum di sebuah stand di mall. Yang menjaga sedang asyik ngobrol dengan rekannya. Saya acungkan botol minum dan bertanya harganya. Ia menjawab, namun kurang jelas, sehingga saya memintanya mengulang kembali informasi harga tsb. Ia kemudian menjawab dengan suara yang lebih keras, namun dari air mukanya terlihat bahwa ia merasa terganggu.

Saya juga pernah berbincang-bincang dengan tukang tahu tek dekat rumah. Ia menyatakan bahwa saat ini ia rata-rata menjual 200 porsi per malam. Ia merasa bahwa konsumen yang makan di tempat justru membuat perputaran dagangannya menjadi lebih lambat, dan bertekad untuk  menghapus layanan makan di tempat dengan tidak lagi menyediakan piring-sendok dan kursi. Dengan demikian, para pembeli hanya akan membeli tahu tek bungkus.

Tahukah bedanya ketiga fenomena tadi? Saya sebut fenomena pertama sebagai fenomena Penjaja Dagangan. Tukang bakso tsb memiliki majikan yang sudah menyediakan bakso, bahkan lengkap dengan gerobak operasionalnya. Si tukang bakso cukup menjajakan bakso tsb dengan berkeliling-keliling. Dia tidak dekat atau kurang mengenal produknya. Sementara fenomena kedua saya sebut Penjaga Dagangan. Boro-boro kenal dengan produknya, bahkan tidak ada usaha untuk berusaha menjual produknya. Tugasnya sebatas menjaga saja. Yang keterlaluan,  sepertinya tidak mempedulikan peluang yang datang padanya. Dalam situasi berbeda, mungkin kita pernah melihat pedagang yg memiliki asisten/pembantu. Tugasnya, tentu saja membantu si pedagang. Mengangkat, membungkus, menutup toko, de el el. Si pedagang biasanya mengambil peran menghadapi dan melayani konsumen. Kalau di restoran, terkadang (sering?) kita bertanya mengenai detil masakan kepada pelayan. Mungkin anda pernah mengalaminya juga, bahwa si pelayan tidak bisa menjawab pertanyaan anda?

Fenomena ketiga saya sebut fenomena Pedagang – bahkan dialah yang yang disebut dengan pemilik bisnis (business owner). Dia mengevaluasi penjualannya dan menerapkan tindakan strategis untuk meningkatkan angka penjualan tsb.  Mungkin terasa remeh, tapi mari kita coba hitung secara kasar saja. Harga tahu tek per porsi Rp 8.000,- Katakanlah asumsi keuntungan Rp 3.000,-/porsi. Maka keuntungannya  per malam:  200 porsi (min.) X Rp 3.000,- = Rp. 600.000. Kalau dihitung perbulan, dengan menggunakan jadwal kerja pegawai kantoran, maka penghasilannya adalah  Rp. 600.000 x 25 hari kerja = Rp 15.000.000,-/bulan.

Kalau penghasilan si Penjaja dan Penjaga Dagangan? Ah, silakan dikira-kira sajalah;-)